Alamat
Jl. Pesantren Babakan Ciwaringin No. 1 Cirebon Jawa Barat.

Peradaban barangkali tidak pertama-tama lahir dari istana, pedang, atau bangunan yang menjulang. Ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: ingatan yang berhasil disimpan. Manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Karena itu ia menciptakan tanda, gambar, huruf, kemudian buku. Dari sana pengalaman seseorang dapat menyeberangi kematiannya, pikiran seorang guru dapat hidup setelah muridnya menjadi tua, dan suara sebuah zaman dapat terdengar oleh zaman yang bahkan belum dilahirkan. Buku, dalam pengertian ini, bukan sekadar benda yang berisi tulisan. Ia adalah cara manusia menolak lenyap.
Sebelum buku menjadi buku, manusia menulis pada batu, tanah liat, papirus, kulit, bambu, dan daun. Di Mesopotamia, tablet-tablet tanah liat menyimpan catatan perdagangan, hukum, doa, dan kisah tentang raja-raja. Di Mesir, papirus menjadi jalan bagi pengetahuan untuk bergerak melampaui dinding kuil. Di Tiongkok, lembar-lembar bambu dan kemudian kertas membawa ajaran Konfusius dan para pemikir lainnya melintasi generasi. Apa yang kita sebut peradaban sesungguhnya adalah sejarah tentang bagaimana manusia menyimpan sesuatu yang dianggapnya terlalu berharga untuk dilupakan.
Lalu datang perpustakaan. Alexandria pernah menjadi lambang dari kegilaan manusia terhadap pengetahuan. Konon, kapal-kapal yang singgah di pelabuhan diperiksa bukan hanya untuk mengetahui barang dagangannya, tetapi juga untuk menemukan naskah. Ada hasrat untuk mengumpulkan dunia dalam lembaran-lembaran. Tetapi sejarah juga memperlihatkan paradoks: perpustakaan dapat dibakar, buku dapat dimusnahkan, aksara dapat dilarang. Kekuasaan sering mengetahui sesuatu yang sederhana: selama sebuah gagasan masih dapat dibaca, ia belum benar-benar mati.
Dalam sejarah Islam, peradaban buku menemukan salah satu musim terbaiknya. Al-Qur’an sendiri hadir dalam kebudayaan yang sangat menghormati kata, bacaan, hafalan, dan tulisan. Kemudian berkembang tradisi penyalinan manuskrip, perpustakaan, majelis ilmu, dan perjalanan para pencari pengetahuan.
Baghdad, Kairo, Damaskus, Kairouan, Cordoba dan kota-kota lainnya menjadi simpul lalu lintas pengetahuan. Para penerjemah mengalihkan karya-karya Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Buku tidak hanya menyimpan pengetahuan; ia mempertemukan peradaban-peradaban yang sebelumnya terpisah oleh jarak dan bahasa.
Di sinilah buku menjadi lebih dari benda. Ia menjadi ruang perjumpaan. Aristoteles dapat dibaca berabad-abad setelah kematiannya. Galen dapat berbicara kepada dokter yang hidup jauh sesudahnya. Al-Khwarizmi meninggalkan gagasan matematika yang kemudian mengembara ke Eropa. Ibn Sina menulis al-Qanun fi al-Tibb, dan teks itu berabad-abad kemudian masih menjadi bagian dari sejarah pendidikan kedokteran. Mereka semua telah mati. Tetapi buku membuat kematian menjadi tidak sepenuhnya berkuasa. Seorang manusia dapat kehilangan tubuhnya, tetapi belum tentu kehilangan suaranya.
Kemudian percetakan mengubah nasib buku. Ketika Johannes Gutenberg mengembangkan percetakan dengan huruf lepas di Eropa pada abad ke-15, pengetahuan memperoleh kecepatan baru. Buku tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tangan para penyalin. Jumlahnya dapat diperbanyak, harganya perlahan dapat dijangkau lebih luas, dan gagasan dapat bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Reformasi keagamaan, perkembangan ilmu pengetahuan, perdebatan filsafat, dan perubahan politik Eropa tidak dapat dilepaskan dari sejarah meluasnya teks cetak. Sebuah teknologi sederhana bagi sebagian orang ternyata dapat mengubah struktur kesadaran sebuah benua.
Tetapi buku juga mempunyai sejarah yang gelap. Ia dapat membebaskan, tetapi dapat pula menghasut. Ia dapat mengajarkan belas kasih, tetapi juga menyebarkan kebencian. Karena itu hampir semua kekuasaan yang takut pada perubahan pada akhirnya belajar mengawasi buku. Sensor muncul, buku dilarang, perpustakaan dibatasi, penulis dipenjara. Anehnya, larangan sering justru memberikan buku itu umur yang lebih panjang. Sebuah buku yang dibakar kadang-kadang menjadi lebih terkenal daripada buku yang dibiarkan berdebu di rak. Api dapat menghancurkan kertas, tetapi tidak selalu mampu membakar ingatan.
Di Indonesia, sejarah buku juga merupakan sejarah lahirnya kesadaran. Dari tradisi manuskrip Nusantara hingga surat kabar, majalah, kitab, roman, dan pamflet pergerakan, tulisan menjadi salah satu kendaraan yang membawa masyarakat menuju gagasan tentang bangsa. Buku dan bacaan mempertemukan orang-orang yang tidak pernah bertemu secara fisik. Mereka membaca gagasan yang sama, membayangkan masa depan yang sama, lalu perlahan menyadari bahwa mereka mungkin merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kampung, kerajaan, suku, atau kesultanan masing-masing. Nasionalisme, dalam banyak hal, juga mempunyai sejarah sebagai sejarah membaca.
Maka ketika hari ini orang berkata bahwa buku sedang dikalahkan oleh layar, barangkali yang sedang berubah bukan kebutuhan manusia terhadap pengetahuan, melainkan bentuk tempat pengetahuan itu berdiam. Tablet tanah liat berubah menjadi papirus, papirus menjadi perkamen, perkamen menjadi kertas, kertas kini berubah menjadi layar. Yang tetap adalah kebutuhan manusia untuk menyimpan pengalaman dan menyampaikan pikiran. Persoalannya bukan apakah buku akan mati. Persoalannya adalah apakah manusia masih mau membaca sesuatu yang membutuhkan kesabaran. Sebab peradaban yang kehilangan kesanggupan membaca pada akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan masa lalunya.
Buku adalah induk peradaban karena dari dalamnya lahir banyak hal yang kemudian kita sebut sebagai kebudayaan: ilmu, hukum, agama, filsafat, sastra, kritik, bahkan gagasan tentang masa depan. Sebuah bangsa yang membangun gedung tanpa membangun tradisi membaca mungkin sedang membangun kota, tetapi belum tentu membangun peradaban. Sebab gedung hanya menyimpan tubuh manusia, sementara buku menyimpan pikirannya. Dan barangkali itulah alasan mengapa sebuah buku yang baik selalu lebih panjang umurnya daripada pengarangnya. Ia menunggu seseorang membukanya pada suatu hari, lalu berkata pelan: aku pernah memikirkan dunia ini sebelum engkau datang.
Juni 2025