Alamat
Jl. Pesantren Babakan Ciwaringin No. 1 Cirebon Jawa Barat.

Oleh: Khusni Mubarok, M.Ag
Salam Literasi.
Tidak ada kalimat yang bisa mewakili rasa bahagia ketika mimpi terlahir dari sifatnya yang diluar tubuh menjadi sebentuk realitas, buku di tangan pembaca ini adalah buah dari mimpi dimaksud. Saya percaya bahwa “nawaitu” akan menjadi energi yang menggelora untuk memulai-mewujudkan mimpi. Nawaitu menyemat menjadi pemantik seluruh gerak sang pemimpi.
Mimpi mewujudkan sebuah ide, gagasan,pandangan, pendapat atau sikap dalam meja tulis tentang realitas hidup dengan segala perniknya bukanlah perkara mudah. Sekawanan Manusia dengan latar belakang yang berbeda mencoba mengucapkan “nawaitu” untuk menuangkan isi tempurung otak mereka dengan mata dan hati yang berbeda pula itu menjadi sebuah buku. Yah, buku,sekumpulan lembaran yang tak juga bagi sebagian halayak berminat atasnya. Lembaran yang setia mengabadikan suara mereka. Ruang kejujuran: ruang yang paling netral untuk sebuah eksekusi hak; hak atas kebebasan berekspresi, menyuarakan perlawanan pada realitas tiran, politik yang timpang, hukum yang “dikendalikan” oleh “tangan besi” sampai persoalan asmara tertuang di lembaran kertas ini.
Sekawanan manusia itu adalah mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon. manusia-manusia merdeka yang kritis, tekun dan realistis.
Berawal dari pergumulan sederhana pada media jejaring sosial WhatsApp antar penyair, dalam grup LITERASI SASTRA yang belum berumur genap satu tahun (pertengahan th. 2017) “nawaitu” itu dimulai, pertemuan banyak tempurung otak itu perlahan tapi pasti bergerak sporadis pada pengejawantahan visi akademik mereka sebagai lembaga pencetak da’i da’iah yang mumpuni yang reformatif, tidak dikerangkeng oleh penafsiran tekstual tentang dakwah yang baku. Bagi mereka, berdakwah melalui puisi adalah reformulasi konstruktif konsep dakwah yang selama ini mapan dipahami oleh kebanyakan.
Puisi sebagai sarana dakwah adalah niscaya, mengingat “puisi adalah suara lain” yang “menyuarakan”. Puisi tidak serta merta menyuarakan ke-diriannya sebagai realitas sosial, namun suara yang dalam sejarah senantiasa mengatakan sesuatu yang “berbeda”, di luar tubuh dan di balik kemapanan.
Jelas, pada konteks demikianlah, puisi menyentuh garis batas visi-visi religius; menyuarakan amar ma’ruf nahyi munkar dengan ke-diri-an-nya yang khas-ilmiah dan indah. Bahasa dalam puisi dengan demikian dikemas sedemikian rupa dengan paradigma dan kaidah keilmuannya sendiri itu.
Secara umum, antologi ini menyoal beberapa aspek, diantaranya seputar kegelisahan para penyair terhadap modernitas. Denyut modernitas yang se-telanjang ini oleh para penyair al-biruni dikritisi dengan hukum puisi dalam pemahaman di atas, di tangan mereka puisi spontan berkarakter reaksioner-revolusioner. Puisi menjadi suara perlawanan yang cantik. Inilah perbedaan yang kontras antara puisi dengan pola perlawanan yang lain.
Dus, pada ranah “asmara”, dalam buku ini geloranya dimunculkan dengan satire yang khas, mencinta-dicintai, melukai-dilukai,menangisi-ditangisi, meninggalkan-ditinggalkan dan aspek-aspek misterius lainnya tentang cinta dituangkan dalam bait-bait puisi yang indah. Lagi-lagi puisi menunjukkan energinya yang dasyat dalam memaknai fenomena cinta, al-hasil, hati yang berdarah sekalipun digambarkan dengan apik bila sudah sampai di tangan mereka.
Semoga Antologi ini dapat memantik api dalam gelap, menjadi nyawa bagi mereka yang sekarat, dan-atau menumbuhkan harapan di tanah kematian, sebagaimana kandungan makna pada judul buku ini, KECAMBAH DI TANAH GERSANG.
Semoga bermanfaat
Salam Literasi.
Cirebon, 29 Januari 2018