Khamenei: Memurnikan Konsep Kesabaran Yang Telah Rusak Maknanya

Oleh Agung Sholihin, M.Ag

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei lahir pada tahun 1939 di kota suci Mashhad, Iran, sebuah kota yang sejak lama menjadi pusat spiritual penting dalam dunia Syiah. Ia berasal dari keluarga ulama yang sederhana namun sangat menghargai tradisi ilmu. Sejak terlahir hingga wafat, sejak ia bukan siapa-siapa hingga menjadi Ayatullah yang memimpin Iran di puncak tertinggi wilayah, tiada perubahan berarti pada keadaan rumahnya yang tetap sederhana.

Sejak usia muda ia telah mempelajari berbagai disiplin ilmu agama, mulai dari fikih, tafsir, hingga filsafat Islam. Masa mudanya dihabiskan dalam lingkungan madrasah dan hauzah, tempat para ulama Iran menempuh pendidikan keagamaan yang panjang. Namun kehidupan intelektualnya tidak terpisah dari dinamika sosial politik yang sedang bergolak di Iran pada masa itu.

Pada dekade 1960-an dan 1970-an, Iran berada di bawah pemerintahan monarki Shah yang banyak dikritik oleh para ulama. Dalam konteks itulah Khamenei muda mulai terlibat dalam gerakan intelektual dan politik yang menuntut perubahan.

Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Sebagai seorang ulama yang kritis terhadap rezim Syah, ia beberapa kali mengalami penangkapan dan pemenjaraan. Pengalaman-pengalaman tersebut nampak kemudian membentuk karakter spiritual yang kuat dalam dirinya. Sehingga, kesabaran yang kemudian ia bicarakan dalam khutbah-khutbahnya bukanlah konsep masih abstrak semata, tetapi ia adalah pengalaman hidup yang nyata: Ia merasakan bagaimana tekanan politik dapat menguji keteguhan seseorang dalam mempertahankan keyakinan/imannya.

Dari pengalaman itu lahir pandangan bahwa kesabaran bukan sekadar menunggu keadaan berubah, melainkan keteguhan untuk tetap berjalan di jalan yang diyakini benar seraya berjuang untuk mengusahakan perubahan. Bagi banyak pengikutnya, pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari kisah perjuangan seorang ulama yang bertahan di tengah tekanan kekuasaan yang menindas.

Setelah Revolusi Iran tahun 1979, kehidupan Khamenei memasuki babak baru. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam struktur negara yang baru terbentuk. Pada awal 1980-an ia menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode. Masa kepemimpinannya berlangsung dalam situasi yang sangat sulit, karena Iran sedang menghadapi perang besar dengan Irak.

Dalam situasi perang itu, konsep kesabaran dan ketahanan spiritual sering kali menjadi tema penting dalam pidato-pidatonya. Ia memandang bahwa sebuah bangsa juga membutuhkan kesabaran kolektif untuk melewati masa-masa sulit. Kesabaran dalam pandangannya bukan hanya etika individual, tetapi juga kekuatan sosial.

Pada tahun 1989, setelah wafatnya Ayatullah Ruhollah Khomeini, Khamenei diangkat oleh para elit ulama Iran sebagai Pemimpin Tertinggi (Ayatullah) di negaranya. Sejak saat itu ia menjadi figur sentral dalam politik dan kehidupan keagamaan Iran. Kepemimpinannya berlangsung lebih dari tiga dekade dan membentuk arah kebijakan negara tersebut. Namun di balik kesibukannya menjadi Pemimpin Tertinggi, ia tetap dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki minat besar terhadap literatur dan pemikiran Islam.
Ia sering menulis dan berbicara tentang sejarah Islam, sastra Persia, dan refleksi spiritual. Banyak dari khutbah kemudian dibukukan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Kitab yang sedang pembaca pegang ini adalah salah satu contoh kecil dari warisan intelektual tersebut.

**

Sekali lagi, sebagai seorang Sunni dari Indonesia, saya menyadari bahwa ada perbedaan teologis yang nyata antara tradisi Sunni dan Syiah. Perbedaan itu merupakan bagian dari sejarah panjang umat Islam. Namun membaca karya seorang ulama dari tradisi lain alih-alih menimbulkan antipati, sering kali justru membuka ruang dialog yang memperkaya pemahaman kita tentang Islam. Terlebih, dalam banyak hal, nilai-nilai spiritual yang dibicarakan oleh para ulama dari berbagai mazhab sering kali bertemu pada titik yang sama.

Kita sama-sama tahu dengan pasti, bahwa kesabaran, keikhlasan, keadilan, dan keteguhan Iman adalah nilai-nilai universal dalam tradisi Islam. Oleh karena itu membaca karya ini jelas tidak berarti serta merta menyetujui seluruh pandangan teologis penulisnya. Akan tetapi, membacanya justru adalah kesempatan untuk memperluas cakrawala intelektual kita dan menjadikan hati kita lebih lapang lagi sebagai umat yang satu; sebagaimana apa yang pernah dinyatakan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam sebuah pernyataan publiknya:

“Kami sudah mengulang ini ratusan kali, tetapi selalu saja ada suara dari seberang yang menyala tentang perbedaan Sunni dan Syiah dan paham-paham lain. Kenapa mereka melakukan hal ini? Kenapa mereka melakukan sesuatu yang menguntungkan musuh? Apa mereka tidak sadar akan keahlian Inggris dalam menciptakan perpecahan? Dan salah satu cara yang selalu digunakan Inggris adalah memecah belah Syiah dan Sunni? Jangan lakukan itu! Jangan lakukan itu! Hiduplah bersama sebagai saudara!

Benar, perbedaan pandangan soal keyakinan dan pemikiran itu memang ada. Tetapi ada juga pendapat yang kita sepakati bersama. Kita punya begitu banyak kesamaan. Lalu apa kita harus abaikan semua begitu saja, lalu justru kita memilih jalan perpecahan? Jangan lakukan itu! Jangan lakukan itu!”

Ya, dunia Muslim hari ini sedang menghadapi berbagai krisis yang begitu kompleks. Konflik geopolitik, ketidakstabilan ekonomi, dan ketegangan sosial terjadi di banyak tempat. Dan semua bisa kita lihat dengan jelas ternyata memiliki akar yang sama, yaitu penindasan yang dilakukan oleh satu-dua negara atau sebuah rezim yang tak segan-segan berlaku dzalim terhadap negara lain atau masyarakatnya. Dan dalam situasi demikian itu, alih-alih bersatu dalam perjuangan Iman yang sama, justru umat Islam sering kali terjebak dalam dua sikap ekstrim: kesabaran yang berputus asa atau kemarahan yang tidak terarah.

Kedua sikap itu jelas sama-sama tidak produktif. Khsususnya dalam konteks pembicaraan kali ini terkait aspek kesabaran. Padahal bahwa kesabaran yang dibicarakan dalam kitab suci juga hadits-hadits yang kita miliki memang menawarkan jalan lain yang bukan untuk bersikap pasif apalagi berputus asa. Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw memang mengajarkan pada kita bahwa ketika menghadapi kesulitan memerlukan keteguhan hati dan kejernihan pikiran. Namun itu bukan berarti kesabaran dimaknai sebagai sikap lemah. Sebaliknya, ia adalah kekuatan untuk tetap berdiri tegak ketika keadaan terasa tidak adil.

Konsep kesabaran yang demikian jelas sangat relevan bagi masyarakat Indonesia. Meski negara kita tidak berada dalam konflik bersenjata seperti di beberapa wilayah Islam lain, masyarakat kita juga menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan: ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, rezim yang sewenang-wenang dalam kebijakan serta ketidakpastian masa depan, menjadi realitas yang dirasakan oleh banyak orang.

Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi seseorang untuk merasa putus asa. Di sisi lain, ajaran Islam selalu mengingatkan bahwa meneguhkan kesabaran dalam berbagai kondisi–sebagaimana disampaikan dalam buku ini–adalah bagian dari perjalanan perjuangan menegakkan Iman. Yangmana kesabaran lah yang memungkinkan manusia tetap menjaga harapan kita pada pertolongan Allah di tengah kesulitan. Inilah salah satu alasan mengapa risalah khutbah ini terasa penting untuk dibaca.

Ya, kesabaran bukan hanya soal menahan diri secara pribadi, tetapi juga tentang menjaga komitmen terhadap kebaikan sosial. Seorang Muslim yang sabar tetap berusaha memperbaiki keadaan masyarakat di sekitarnya. Ia tidak menyerah pada ketidakadilan, tetapi juga tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kemarahan yang merusak. Dalam hal ini, kesabaran menjadi kekuatan moral yang menjaga keseimbangan tindakan Iman.[]


Tulisan ini merupakan penggalan dari Kata Pengantar Penerjemah dalam buku Kesabaran, Perjuangan dan Tujuan Hidup: Enam Khutbah Sayyed Ali-Khamanei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *